Berita

Pp darul Falah.net_Pondok pesantren merupakan tempat belajar untuk memperdalam berbagai ilmu pengetahuan dan tempat menempa moral. Akhlakul karimah adalah sebuah pola hidup yang biasa bersemayam dalam tubuh seorang santri, maka mentaati apa yang menjadi dawuh seorang Guru adalah salah satunya.

KH. Hasyim Asy’ari adalah salah satu santri dari KH. Muhammad Kholil bin abdul latif atau sering di panggil mbah kholil. Sejak mondok di bangkalan, KH. Hasyim Asy’ari lebih banyak mendapatkan tugas mengurusi kuda daripada menimba ilmu pada Mbah Kholil. Suatu hari Mbah Kholil kedatangan tamu seorang kiai dari jawa yang mempunyai kerpeluan kepada beliau. Keperluan pertamanya adalah niat silaturrahmi, dan yang kedua meminta petunjuk beliau untuk sudi kiranya mencarikan jodoh untuk putrinya yang sudah dewasa.

Tanpa berfikir panjang, Mbah Kholil langsung memanggil KH. Hasyim Asy’ari yang sedang mengurusi kuda di belakang dhalem (rumah) beliau. KH. Hasyim Asy’ari yang mendengar bahwa ia dipanggil gurunya langsung lari untuk menghadap.

“iya kiai, panjenengan memanggil saya?”

“iya”. Jawab mbah kholil.

Saat itu juga mbah kholil mengatakan pada tamu itu bahwa KH. Hasyim Asy’ari adalah calon menantu yang akan meneruskan perjuangannya. Spontan tamu itupun tekejut tak habis fikir dan hanya bisa bergumam dalam hatinya bahwa iya sama sekali tidak yakin apakah iya santri seperti yang dilihatnya itu banyak ilmunya ?, apalagi bisa mengurus pesantrennya ?. Di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari juga merasakan hal yang sama, beliau juga bergumam “ masa iya kiai tega akan menjodohkan saya dengan putri kiai yang begitu mulia, berwibawa dan alim ini ?”

Ditengah perasaan yang sama itu, Mbah Kholil menengahi apa yang mereka pikirkan.

“ sudahlah kamu pulang dan siapkan segala keperluannya. Tiga hari lagi akad nikah dilaksanakan, dan kamu hasyim, sana kembali ke belakang!”Hasyim Asy’ari kembali ke belakang dengan suasana hati dan fikiran yang masih kacau dan risau, sembari bertanya dalam hatinya: “ kenapa kiai tidak memberi tahu saya sebelumnya atau paling tidak menawarkannya. Bagaimana saya menjalani ini semua??”. Ditengah gunda gulana itu, hidayah Allah ditampakkan pada beliau. KH. Hasyim Asy’ari teringat saat pengajian kitab, Mbah Kholil dawuh:” barang siapa di antara kalian yang ingin tercapai hajatnya, maka bacalah SHALAWAT NARIYAH sebanyak banyaknya, terutama sangat dianjurkan pada waktu ijabah, yaitu setelah separuh malam hingga menjelang subuh”.

Pelaksanaan akad nikah sudah tinggal tiga hari, tanpa banyak fikir lagi, kira- kira saat jam 24:00 tiba, beliau melaksanakan dawuh gurunya itu. Beliau membaca shalawat nariyah sebanyak-banyaknya. Ketika beliau membaca shalawat nariyah selama tiga malam berturut-turut itu, menjelang subuh beliau selalu ketiduran. Hal ajaib-pun terjadi, dimana dalam tidur sekejapnya itu, pada malam pertama beliau bermimpi bertemu Imam al- bukhori sedang mengajarkan hadits sohih kepadanya selama 40 tahun. Di malam kedua beliau bermimpi bertemu Imam Syafi’i sedang mengajarkan kitab fiqih dari berbagai madzhab selama 40 tahun. Di malam ketiga masih sama, belia bermimpi bertemu Imam Ghazali dan Imam Junaid al-baghdadi yang mengajarkan kitab tasawwuf selama 40 tahun. Setiap kali beliau bangun dari tidurnya itu, beliau selalu terkejut dan bertanya dalam pikirannya tentang apa sebenarnya makna dari semua mimpinya itu ?.

Di hari pelaksanaan akadnya itu, beliau ada niat untuk menanyakan atas apa makna mimpi yang di alaminya selama tiga malam itu, namun tidak ada kesempatan, dikarenakan beliau disuruh siap- siap untuk berangkat ke rumah mertuanya. Tidak ada sepatah katapun yang terucap oleh Mbah Kholil mulai dari pemberangkatan sampai selesainya akad nikah. Baru ketika hendak pulang, beliau  dawuh kepada KH. Hasyim Asy’ari juga kepada mertuanya yang disaksikan banyak santri dan tamu undangan.

“Hasyim jangan nyelewang-nyeleweng ya! Ibadah ikut yang dicontohkan Nabi melalui ulamaknya dan ikutilah ulamaknya Allah agar selamat, Allah pasti bersamamu”. Kemudian kepada mertuanya beliau dawuh “ jangan ragu dengan hasyim, dia sudah ngaji 120 tahun lamanya.”

Satu orangpun tidak ada yang faham, malah kebingungan dengan dawuh Mbah Kholil termasuk KH. Hasyim Asy’ari sendiri dan mertuanya. Dawuhnya  sangat tidak masuk akal  kapan beliau ngaji selama itu, sementara umur beliau belum sampai 50 tahun.

Sedari awal perjumpaan dengan KH. Hasyim Asy’ari sampai pelaksaan akad yang sudah usai, rasa tidak percaya itu tetap melekat dalam benak si mertua, hingga keesokan harinya KH. Hasyim Asy’ari di uji oleh mertuanya, ia ingin menguji sealim apakah menantu yang di jagokan Gurunya itu. Di tempat yang biasa mertuanya duduk sudah ada Kitab tafsir dan hadts yang tersusun rapi untuk di ujikan kepada KH. Hasyim Asy’ari.

Saat mertuanya mulai mengujinya, pada saat itu jua keajaiban dimulai. Tanpa harus menengok apalagi memegang kitab satupun, KH. Hasyim Asy’ari membaca dengan fasih dan hafal serta membahas, mengupas tuntas layaknya seorang syekh,  tidak satupun ada yang salah.

Semua yang menyaksikan pada saat itu termasuk para ustadz dan santri senior yang awalnya tidak yakin dengan beliau, kini-pun takjub, tiada satu  katapun terucap, diam bungkam seribu bahasa.

Sejak kejadian itu hingga seterusnya KH. Hasyim Asy’ari-lah yang mengajar semua kita-kitab dari berbagai cabang ilmu agama islam.

Dari kisah di atas sudah sangat jelas betapa sangat besar barokah yang akan diperoleh seorang santri jika mentaati segala bentuk apapun yang diperintah oleh Gurunya, dan juga betapa terasa khasiatnya, ketika tiada ber ucap kecuali shalawat yang menjadi paling baiknya tutur kata.

Teruslah Bersholawat 4444

Semoga kita selalu ada dijalannya.


Penulis : Abdul Wafi 

Editor     : Abdul Hadi

 
Bagikan :